Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk
Judul
resensi : Cinta yang Terhalang Ronggeng
Nama Novel
: Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka
Utama
Tahun
: 2009
Cetakan
: Cetakan keempat,
2009
Tebal
Buku : 21 cm
Jumlah
Halaman : 406
Jenis
novel : Fiksi
Novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah salah satu novel karya
Ahmad Tohari. Buku ini merupakan buku kedua dari trilogi yang terdiri atas
Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus
Dini Hari dan Jantera Bianglala. Novel karya Ahmad Tohari “Ronggeng Dukuh
Paruk” menceritakan tentang kehidupan masyarakat lapisan bawah. Novel ini
menceritakan tentang kehidupan masyarakat tradisional yang pemikirannya masih
sangat primitif dan terbelakang. Ahmad Tohari merupakan seorang penulis yang
mampu menghasilkan karya yang menarik, ia memiliki wawasan tentang alam yang
begitu terlihat jelas dari setiap bahasanya dalam pendeskripsian ceritanya
dalam novel.
Novel Ronggeng Dukuh Paruk
menceritakan tentang kisah seorang penari ronggeng yang berasal dari Dukuh Paruk,
sebuah dukuh yang masih kental dengan adat istiadat yang primitif dan penuh
dengan sumpah serapah cabul. Semua orang Dukuh Paruk tahu Ki Secamenggala,
moyang mereka dahulu menjadi musuh bebuyutan masyarakat, tetapi mereka memuja
kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh
Paruk yang menjadi kiblat kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan
kubur Ki Secamenggala membuktikan polah kebatinan orang dukuh paruk disana.
Srintil
sudah membuktikan dirinya lahir untuk menjadi ronggeng Dukuh Paruk. Kecantikan,
dan martabatnya begitu terlihat meski ia masih belia. Kakeknya sakarya seorang
petua kampung Dukuh Paruk, menyadari bahwa ada inang ronggeng dalam diri cucunya,
ia adalah penerus ronggeng dukuh paruk yang dititiskan oleh kakek moyang Dukuh
Paruk Si Kecamenggala. Masa kecil yang dulu srintil habiskan untuk bermain bersama
rasus kini telah hilang setelah ia dinobatkan menjadi seorang ronggeng dan
harus mengemban segala kewajibannya. Rasus adalah satu-satunya orang yang tak
merelakan srintil menjadi seorang ronggeng, berbeda dengan seluruh warga Dukuh
Paruk yang sangat bahagia menyambut hadirnya ronggeng Dukuh Paruk yang setelah 11
tahun hilang sejak tragedi keracunan
tempe bonkrek yang menewaskan puluhan warga dan juga ronggeng mereka pada masa
itu termasuk kedua orang tua srintil. Rasus juga memiliki nasib yang sana ayahnya
meninggal pada tragedi itu, dan ibunya yang entah hilang kemana, ia tak tahu
apakah ibunya benar-benar telah meninggal ataukah pergi bersama seseorang mantri
yang merawatnya dan hidup di kota, namun rasus mencoba untuk berfikir kritis.
Rasus tak pernah melihat gambaran sosok ibunya, hal inilah yang kemudian membuat ia terus mencari gamabaran
ibunya, yang ia pikir ada dalam diri srintil. Namun gambaran itu semakin hilang
ketika srintil telah dewasa dan menjadi Ronggeng. Oleh karena itu, Rasus
memilih pergi meninggalkan Srintil.
Kepergian
Rasus ternyata membekaskan luka yang mendalam di hati Srintil dan besar sekali
pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya yang berliku. Rasus yang terluka
hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk dan akhirnya menjadi seorang prajurit
atau tentara yang gagah. Meskipun dalam tradisinya seorang ronggeng tidak
dibenarkan mengikat dengan seorang lelaki, namun ternyata srintil tidak bisa
melupakan rasus. Ketika rasus menghilang dari Dukuh Paruk, jiwa srintil
terkoyak. Srintil tidak bisa menerima keadaan ini dan berontak dengan caranya
sendiri. Dia tegar dan berani melangkahi ketentuan-ketentuan yang telah lama
mengakar dalam dunia peronggengan, terutama dalam masalah hubungan antara
seorang ronggeng dengan dukunya.
Perlawanan srintil dalam pergolakan
hatinya akhirnya runtuh dan pasrah, bukan semata-mata tergugah untuk kembali
tampil menari sebagai seorang ronggeng, melainkan mendengar ancaman Pak Ranu
dari Kantor Kecamatan. Srintil menyadari kedudukannya sebagai orang kecil yang tak
berhak melawan kekuasaan. Sama sekali ia tidak membayangkan akibat lebih jauh
dari penampilannya di panggung perayaan Agustusan yang pada tahun 1965 sengaja
dibuat berlebihan oleh orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Warna merah
dipasang di mana-mana dan muncullah pidato-pidato yang menyebut-nyebut rakyat
tertindas, kapitalis, imperalis, dan sejenisnya. Mala petaka politik tahun 1965
membuat dukuh itu hancur baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya,
mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah
mengguncangkan Negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng dan para penabuh
calungnya ditahan. Hamnya karena kecantikannya srintil tidak diperlakukan
semena-mena oleh para penguasa di penjara itu.
Pengalaman pahit sebagai tahanan
politik membuat srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. karena itu
setelah bebas, ia ingin menjadi wanita somahan. Wanita sesungguhnya yang bisa
menikah dan mengurus rumah tangga bersama suami dan anaknya. . dia kembali
menggantungkan harapannya pada rasus yang kini telah menjadi tentara. Nemun,
perbedaan antara mereka membuat dilema hati rasus. Dan ketika bajus muncul
dalam hidupnya sepercik harapan timbul kembali, harapan yang makin lama makin
membuncah.tetapi ternyata harapan itu membuat srintil kembali terhampas, kali
ini membuat jiwanya hancur berantakan, tanpa harkat sedikitpun, dan disitulah
hati rasus kembali terluka melihat keadaan orang yang sangat di cintainya. Srintil
mengalami guncangan jiwa dan akhirnya menderita sakit gila sampai akhirnya
dibawa ke rumah sakit jiwa oleh Rasus.
Novel ini merupakan jenis novel fiksi. Dalam memahami
penilian novel ini saya lebih memfokuskan pada unsur yang paling menonjol dalam
novel ini yaitu terdapat pada unsur ekstrinsiknya, yaitu latar belakang sosial
novel Ronggeng Dukuh Paruk. Latar belakang sosialnya yang mempelihatkan
kebudayaan serta adat-istiadat yang sangat kental di dukuh paruk yang enggan
mengikuti pergolakan zaman meski zaman telah maju, mereka tetap memperthanankan
keaslian dukuh mereka, dengan kepercayaan moyangnya Ki secamenggala. Seperti di
ceritakan bahwa semua orang Dukuh Paruk memuja kubur Ki Secamenggala yang
terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk yang menjadi kiblat
kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala
membuktikan polah kebatinan orang dukuh paruk disana. Novel ini mengupas tokoh
disertai pembuktian.
Dalam penilaian buku ini tidak lepas dari kelemahan dan
kelebihan. Novel Ronggeng Dukuh paruk bila di bandingkan dengan karya yang
sejenis yaitu dengan film Sang penari. Film ini merupakan adaptasi dari novel
Ronggeng Dukuh Paruk. Inti dari ceritanya sama, yaitu menceritakan tentang
seorang penari yang diperankan oleh Pricila Nasution sebagai srintil dan rasus
yang diperankan oleh Oka Antara. Film itu juga menceritakan tentang cinta segi
tiga antara srintil, rasus dan keegoan srintil untuk menjadi seorang ronggeng.
Namun pada filmnya banyak sekali pemotongan alur cerita yang seharusnya di
angkat sebagai nilai kebudayaan, sedangkan pada novel menceritakan tentang
kebudayaan yang sangat kental dengan adat istiadat Dukuh Paruk. Pada novel
diceritakan srintil telah menjadi seorang ronggeng sejak ia masih kecil, hal
itu menimbulkan penilaian yang bagus karena terlihat kealamian bahwa srintil
memang sudah ditakdirkan menjadi ronggeng, berbeda dengan cerita yang di angkat
dalam filmnya, srintil menjadi ronggeng setelah ia dewasa, dan adat istiadat
yang menarik dalam ceritanya kurang menonjol dalam film. Tradisi dukuh paruk
yang begitu kental dengan pemujaan terhadap dan adat kepercayaan terhadap
moyangnya Ki Secamenggala tidak terlihat menonjol pada filmnya. Bila di
bandingkan dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk fil sang Penari menggunakan bahasa
yang lebih sopan.
Kelebihan dari novel ini yaitu, Novel ini sangat baik
sebagai refrensi bacaan, terutama oleh mahasiswa, namun tidak cocok untuk anak
dibawah usia 17 tahun, karena banyak sekali kata-kata yang sebenarnya tidak
pantas, seperti saat mengucap serapah “santayib, Engkau anjing! Asu bunting”, mungkin
bisa lebih baik jika menggunakan kata kurang ajar. Novel ini menceritakan kisah
ronggeng tanpa adanya sensor Seperti menceritakan malam bukak klambu, sehimgga
tidak layak untuk bacaan semua umur terutama anak-anak. kelebihan yang lain
yaitu novel ini mengangkat cerita tentang suatu kebudayaan.
Amanat
yang terkandung dalam novel ini bahwa meskipun kita menghargai adat istiadat,
ada baiknya kita tetap membuka diri pada pergolakan zaman yang telah maju, agar
kita tidak terlindas oleh zaman, tanpa harus kehilangan jati diri.

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking