Woensdag 26 Junie 2013

Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk


Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Dokumentasi
Judul resensi                 : Cinta yang Terhalang Ronggeng
Nama Novel                : Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis                         :  Ahmad Tohari
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun                          : 2009
Cetakan                       : Cetakan keempat, 2009
Tebal Buku                  : 21 cm
Jumlah Halaman          : 406
Jenis novel                   : Fiksi

            Novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah salah satu novel karya Ahmad Tohari. Buku ini merupakan buku kedua dari trilogi yang terdiri atas Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala. Novel karya Ahmad Tohari “Ronggeng Dukuh Paruk” menceritakan tentang kehidupan masyarakat lapisan bawah. Novel ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat tradisional yang pemikirannya masih sangat primitif dan terbelakang. Ahmad Tohari merupakan seorang penulis yang mampu menghasilkan karya yang menarik, ia memiliki wawasan tentang alam yang begitu terlihat jelas dari setiap bahasanya dalam pendeskripsian ceritanya dalam novel.
            Novel Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan tentang kisah seorang penari ronggeng yang berasal dari Dukuh Paruk, sebuah dukuh yang masih kental dengan adat istiadat yang primitif dan penuh dengan sumpah serapah cabul. Semua orang Dukuh Paruk tahu Ki Secamenggala, moyang mereka dahulu menjadi musuh bebuyutan masyarakat, tetapi mereka memuja kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk yang menjadi kiblat kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah kebatinan orang dukuh paruk disana.
Srintil sudah membuktikan dirinya lahir untuk menjadi ronggeng Dukuh Paruk. Kecantikan, dan martabatnya begitu terlihat meski ia masih belia. Kakeknya sakarya seorang petua kampung Dukuh Paruk, menyadari bahwa ada inang ronggeng dalam diri cucunya, ia adalah penerus ronggeng dukuh paruk yang dititiskan oleh kakek moyang Dukuh Paruk Si Kecamenggala. Masa kecil yang dulu srintil habiskan untuk bermain bersama rasus kini telah hilang setelah ia dinobatkan menjadi seorang ronggeng dan harus mengemban segala kewajibannya. Rasus adalah satu-satunya orang yang tak merelakan srintil menjadi seorang ronggeng, berbeda dengan seluruh warga Dukuh Paruk yang sangat bahagia menyambut hadirnya ronggeng Dukuh Paruk yang setelah 11 tahun hilang  sejak tragedi keracunan tempe bonkrek yang menewaskan puluhan warga dan juga ronggeng mereka pada masa itu termasuk kedua orang tua srintil. Rasus juga memiliki nasib yang sana ayahnya meninggal pada tragedi itu, dan ibunya yang entah hilang kemana, ia tak tahu apakah ibunya benar-benar telah meninggal ataukah pergi bersama seseorang mantri yang merawatnya dan hidup di kota, namun rasus mencoba untuk berfikir kritis. Rasus tak pernah melihat gambaran sosok ibunya, hal inilah  yang kemudian membuat ia terus mencari gamabaran ibunya, yang ia pikir ada dalam diri srintil. Namun gambaran itu semakin hilang ketika srintil telah dewasa dan menjadi Ronggeng. Oleh karena itu, Rasus memilih pergi meninggalkan Srintil.
Kepergian Rasus ternyata membekaskan luka yang mendalam di hati Srintil dan besar sekali pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya yang berliku. Rasus yang terluka hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk dan akhirnya menjadi seorang prajurit atau tentara yang gagah. Meskipun dalam tradisinya seorang ronggeng tidak dibenarkan mengikat dengan seorang lelaki, namun ternyata srintil tidak bisa melupakan rasus. Ketika rasus menghilang dari Dukuh Paruk, jiwa srintil terkoyak. Srintil tidak bisa menerima keadaan ini dan berontak dengan caranya sendiri. Dia tegar dan berani melangkahi ketentuan-ketentuan yang telah lama mengakar dalam dunia peronggengan, terutama dalam masalah hubungan antara seorang ronggeng dengan dukunya.
            Perlawanan srintil dalam pergolakan hatinya akhirnya runtuh dan pasrah, bukan semata-mata tergugah untuk kembali tampil menari sebagai seorang ronggeng, melainkan mendengar ancaman Pak Ranu dari Kantor Kecamatan. Srintil menyadari kedudukannya sebagai orang kecil yang tak berhak melawan kekuasaan. Sama sekali ia tidak membayangkan akibat lebih jauh dari penampilannya di panggung perayaan Agustusan yang pada tahun 1965 sengaja dibuat berlebihan oleh orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Warna merah dipasang di mana-mana dan muncullah pidato-pidato yang menyebut-nyebut rakyat tertindas, kapitalis, imperalis, dan sejenisnya. Mala petaka politik tahun 1965 membuat dukuh itu hancur baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan Negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng dan para penabuh calungnya ditahan. Hamnya karena kecantikannya srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa di penjara itu.
            Pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. karena itu setelah bebas, ia ingin menjadi wanita somahan. Wanita sesungguhnya yang bisa menikah dan mengurus rumah tangga bersama suami dan anaknya. . dia kembali menggantungkan harapannya pada rasus yang kini telah menjadi tentara. Nemun, perbedaan antara mereka membuat dilema hati rasus. Dan ketika bajus muncul dalam hidupnya sepercik harapan timbul kembali, harapan yang makin lama makin membuncah.tetapi ternyata harapan itu membuat srintil kembali terhampas, kali ini membuat jiwanya hancur berantakan, tanpa harkat sedikitpun, dan disitulah hati rasus kembali terluka melihat keadaan orang yang sangat di cintainya. Srintil mengalami guncangan jiwa dan akhirnya menderita sakit gila sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa oleh Rasus.
            Novel ini merupakan jenis novel fiksi. Dalam memahami penilian novel ini saya lebih memfokuskan pada unsur yang paling menonjol dalam novel ini yaitu terdapat pada unsur ekstrinsiknya, yaitu latar belakang sosial novel Ronggeng Dukuh Paruk. Latar belakang sosialnya yang mempelihatkan kebudayaan serta adat-istiadat yang sangat kental di dukuh paruk yang enggan mengikuti pergolakan zaman meski zaman telah maju, mereka tetap memperthanankan keaslian dukuh mereka, dengan kepercayaan moyangnya Ki secamenggala. Seperti di ceritakan bahwa semua orang Dukuh Paruk memuja kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk yang menjadi kiblat kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah kebatinan orang dukuh paruk disana. Novel ini mengupas tokoh disertai pembuktian.
            Dalam penilaian buku ini tidak lepas dari kelemahan dan kelebihan. Novel Ronggeng Dukuh paruk bila di bandingkan dengan karya yang sejenis yaitu dengan film Sang penari. Film ini merupakan adaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk. Inti dari ceritanya sama, yaitu menceritakan tentang seorang penari yang diperankan oleh Pricila Nasution sebagai srintil dan rasus yang diperankan oleh Oka Antara. Film itu juga menceritakan tentang cinta segi tiga antara srintil, rasus dan keegoan srintil untuk menjadi seorang ronggeng. Namun pada filmnya banyak sekali pemotongan alur cerita yang seharusnya di angkat sebagai nilai kebudayaan, sedangkan pada novel menceritakan tentang kebudayaan yang sangat kental dengan adat istiadat Dukuh Paruk. Pada novel diceritakan srintil telah menjadi seorang ronggeng sejak ia masih kecil, hal itu menimbulkan penilaian yang bagus karena terlihat kealamian bahwa srintil memang sudah ditakdirkan menjadi ronggeng, berbeda dengan cerita yang di angkat dalam filmnya, srintil menjadi ronggeng setelah ia dewasa, dan adat istiadat yang menarik dalam ceritanya kurang menonjol dalam film. Tradisi dukuh paruk yang begitu kental dengan pemujaan terhadap dan adat kepercayaan terhadap moyangnya Ki Secamenggala tidak terlihat menonjol pada filmnya. Bila di bandingkan dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk fil sang Penari menggunakan bahasa yang lebih sopan.
            Kelebihan dari novel ini yaitu, Novel ini sangat baik sebagai refrensi bacaan, terutama oleh mahasiswa, namun tidak cocok untuk anak dibawah usia 17 tahun, karena banyak sekali kata-kata yang sebenarnya tidak pantas, seperti saat mengucap serapah “santayib, Engkau anjing! Asu bunting”, mungkin bisa lebih baik jika menggunakan kata kurang ajar. Novel ini menceritakan kisah ronggeng tanpa adanya sensor Seperti menceritakan malam bukak klambu, sehimgga tidak layak untuk bacaan semua umur terutama anak-anak. kelebihan yang lain yaitu novel ini mengangkat cerita tentang suatu kebudayaan.
Amanat yang terkandung dalam novel ini bahwa meskipun kita menghargai adat istiadat, ada baiknya kita tetap membuka diri pada pergolakan zaman yang telah maju, agar kita tidak terlindas oleh zaman, tanpa harus kehilangan jati diri.